Minat Baca Menurun di Era Digital? Ini Cara Efektif Mengatasinya

Penulis: Handriadi Iswardani

 

Sumber Gambar: pexels.com/Polina

Buku yang Mulai Terlupakan

Di era sekarang, keberadaan buku sering terasa semakin terpinggirkan. Di Indonesia sendiri, minat membaca masih tergolong rendah. Kehadiran gadget dan berbagai game yang begitu menarik perhatian menjadi salah satu penyebabnya. Tidak hanya anak-anak, remaja hingga orang dewasa pun ikut larut dalam dunia digital yang serba cepat dan instan. Akibatnya, buku yang seharusnya menjadi sumber pengetahuan justru mulai dilupakan.

Jika kita melihat ke belakang, sebenarnya kondisi ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada proses perubahan dari masa ke masa. Dulu, anak-anak menghabiskan waktu dengan permainan tradisional seperti petak umpet, kelereng, atau sekadar berlari bersama teman-temannya. Saat era PlayStation mulai masuk, memang terjadi perubahan, tetapi permainan tradisional masih tetap ada dan dimainkan. Artinya, saat itu masih ada keseimbangan antara hiburan modern dan aktivitas sosial yang melibatkan interaksi langsung.

Berbeda dengan kondisi saat ini. Anak-anak cenderung lebih banyak menghabiskan waktu dengan game di handphone. Bahkan, fenomena ini tidak hanya terjadi pada anak-anak, tetapi juga pada mahasiswa hingga orang yang sudah berkeluarga. Ketertarikan yang berlebihan terhadap game membuat waktu yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk membaca atau belajar menjadi berkurang. Jika dibiarkan terus, hal ini bisa berdampak pada menurunnya kebiasaan berpikir mendalam dan kemampuan memahami informasi secara lebih luas.

Dari kondisi ini, kita bisa mengambil pelajaran bahwa perkembangan teknologi memang tidak bisa dihindari, tetapi penggunaannya perlu dikendalikan. Game dan gadget tidak selalu buruk, selama digunakan secara bijak. Yang menjadi masalah adalah ketika keduanya mengambil porsi waktu yang terlalu besar hingga menggeser kebiasaan membaca. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mulai menyeimbangkan kembali antara hiburan digital dan aktivitas yang dapat menambah wawasan, seperti membaca buku.

 

Pepatah Arab

Ada pepatah Arab yang mengatakan, “sesuatu tidak bisa ditinggalkan kecuali ada penggantinya.” Artinya, ketika kita ingin mengurangi atau meninggalkan suatu kebiasaan, kita perlu menyediakan alternatif yang lebih baik. Hal ini juga berlaku dalam kebiasaan bermain game. Dulu, permainan tradisional mulai ditinggalkan karena hadirnya game yang lebih modern dan menarik. Maka, jika kita ingin mengurangi ketergantungan pada game saat ini, perlu ada pengganti yang tidak kalah bermanfaat, salah satunya adalah membaca buku.

Namun, solusi ini tidak bisa disamaratakan. Pendekatan untuk anak-anak tentu berbeda dengan orang dewasa. Pada bagian ini, kita fokus terlebih dahulu pada anak-anak.

a. Anak-anak

Untuk anak-anak, kunci utamanya adalah bimbingan dan perhatian dari orang tua. Tidak perlu penjelasan yang terlalu rumit—anak-anak belajar dari lingkungan terdekatnya, terutama keluarga. Jika orang tua terlalu sibuk dan kurang memberikan arahan, maka wajar jika anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan game. Dalam kondisi tertentu, ketika orang tua memang memiliki kesibukan tinggi, peran pengasuh juga menjadi penting untuk memastikan anak tetap mendapatkan perhatian dan pendampingan yang cukup.

Anak-anak yang dibiarkan bermain game tanpa aturan yang jelas, baik dari segi waktu maupun jenis permainan, cenderung akan bermain sesuka hati. Oleh karena itu, bukan berarti game harus dihilangkan sepenuhnya, tetapi perlu diatur dengan bijak. Misalnya, anak boleh bermain game di handphone pada waktu tertentu saja, seperti akhir pekan (Sabtu dan Ahad). Sementara pada hari sekolah, mereka tetap boleh bermain, tetapi diarahkan pada aktivitas yang melibatkan gerak fisik, seperti bermain sepak bola, kejar-kejaran, atau permainan lainnya bersama teman.

Pendekatan ini membantu anak tetap mendapatkan hiburan, tetapi tidak sepenuhnya bergantung pada layar. Di sisi lain, orang tua juga bisa mulai mengenalkan buku secara bertahap, misalnya dengan menyediakan bacaan yang menarik, membacakan cerita, atau meluangkan waktu khusus untuk membaca bersama.

Pada akhirnya, upaya mengurangi kebiasaan bermain game pada anak tidak cukup hanya dengan melarang. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana orang tua memberikan bimbingan, perhatian, dan contoh yang baik di rumah. Dari situlah kebiasaan positif, termasuk minat membaca, bisa mulai tumbuh dengan alami.

 

b. Remaja - Dewasa

Untuk usia remaja hingga dewasa, cara meningkatkan minat baca tentu membutuhkan pendekatan yang berbeda. Salah satu langkah yang cukup efektif adalah mulai memiliki buku secara pribadi, bukan hanya meminjam dari perpustakaan.Hal ini bukan tanpa alasan, karena ada aspek kebiasaan dan psikologis yang ikut berperan dalam menumbuhkan minat membaca.

Pertama, perlu dipahami bahwa seseorang yang sebelumnya terbiasa menghabiskan waktu dengan game biasanya akan merasa kesulitan saat mulai membaca buku. Terlebih jika langsung membaca buku pelajaran yang cenderung berat. Karena itu, tahap awal sebaiknya dimulai dengan bacaan yang ringan namun tetap bermanfaat, seperti kisah inspiratif, cerita tokoh-tokoh saleh, atau sejarah perjuangan para pahlawan. Bisa juga dimulai dari buku yang menjawab rasa penasaran pribadi, misalnya tentang keagamaan atau hal-hal yang selama ini menjadi pertanyaan dalam diri.

Ketika seseorang menemukan buku yang “nyambung” dengan isi pikirannya, biasanya akan muncul ketertarikan yang lebih kuat, bahkan bisa berkembang menjadi kebiasaan membaca yang konsisten.

Selanjutnya, mengapa disarankan membeli buku sendiri? Ada beberapa alasan yang berkaitan dengan sisi psikologis. Memiliki buku sendiri membuat seseorang merasa lebih terikat dengan buku tersebut. Barang yang dimiliki pribadi cenderung lebih dihargai—dirawat dengan baik, disimpan rapi, bahkan dijaga kondisinya agar tetap bagus. Rasa memiliki ini secara tidak langsung mendorong keinginan untuk membuka dan membacanya.

Selain itu, buku baru biasanya lebih menarik secara fisik. Kondisinya masih rapi, bersih, dan nyaman dilihat. Secara alami, manusia menyukai sesuatu yang indah dan enak dipandang. Dibandingkan dengan buku perpustakaan yang kadang sudah usang, sobek, atau berdebu, buku baru tentu lebih menggugah minat untuk dibaca.

Dalam tahap awal, sebaiknya pilih buku yang tidak terlalu tebal. Buku yang ringan, jumlah halamannya tidak banyak, dan nyaman dipegang akan membantu mengurangi rasa “berat” saat mulai membaca. Ini penting sebagai proses pembiasaan. Setelah terbiasa, barulah bisa beralih ke buku yang lebih tebal dan mendalam.

Untuk menambah kenyamanan, membaca juga bisa disertai suasana yang menyenangkan. Misalnya dengan menyiapkan minuman favorit seperti kopi, teh, atau minuman manis. Hal-hal sederhana seperti ini bisa membuat aktivitas membaca terasa lebih santai dan tidak membebani.

Ada juga kebiasaan yang sering dianggap sepele, tetapi sebenarnya berpengaruh, yaitu menjaga kondisi buku. Tidak mencoret, tidak melipat halaman, dan tidak merusak tampilan buku. Sikap ini bukan hanya soal kerapian, tetapi juga membangun penghargaan terhadap ilmu.

Kita bisa belajar dari sosok Mohammad Hatta, yang dikenal sangat mencintai buku. Bahkan ketika diasingkan oleh Belanda ke Digul, Papua, beliau tetap membawa banyak buku. Baginya, membaca adalah bentuk kebebasan berpikir, meskipun secara fisik sedang dibatasi. Ia juga sangat menjaga kondisi bukunya, tidak sembarangan mencoret atau merusaknya.

Ada kisah menarik ketika beliau bersama Sutan Syahrir harus berpindah tempat dengan keterbatasan angkutan. Saat itu disarankan agar sebagian peti buku ditinggalkan karena keterbatasan kapasitas, namun hal tersebut bukan keputusan yang mudah bagi Hatta. Dari sini terlihat bahwa buku bukan sekadar benda, tetapi bagian penting dari hidupnya.

Melalui contoh tersebut, sebenarnya ada pesan yang ingin disampaikan: menumbuhkan minat baca tidak hanya soal teknik, tetapi juga menyentuh sisi perasaan. Ketika seseorang mulai merasa dekat, nyaman, dan menghargai buku, maka kebiasaan membaca akan tumbuh dengan sendirinya.

Demikian tulisan ini disusun dengan harapan bisa memberi manfaat, meskipun sederhana. Besar harapan kita bersama agar minat baca di negeri tercinta ini terus meningkat, dari Sabang hingga Merauke. Karena dengan membaca, wawasan akan terbuka, cara berpikir menjadi lebih matang, dan kualitas diri pun ikut berkembang.

Semoga upaya kecil ini bisa menjadi bagian dari langkah besar dalam membangun budaya literasi di tengah masyarakat. Aamiin ya Rabbal ‘Aalamiin.

 

Komentar

Postingan Populer