Hukum Ziarah Kubur dan Tawassul: Kesalahan yang Harus Dihindari

Penulis: Handriadi Iswardani


Sumber: Ilustrasi AI


Fenomena dan Kebiasaan di Tengah Masyarakat

    Di Indonesia, ziarah kubur sudah menjadi bagian dari tradisi yang sangat akrab di tengah masyarakat. Biasanya, kegiatan ini semakin ramai dilakukan menjelang Hari Raya Idulfitri atau saat hari lebaran itu sendiri. Di banyak desa, warga datang berbondong-bondong ke pemakaman untuk mendoakan anggota keluarga yang telah wafat sekaligus membersihkan area kuburan agar tetap rapi dan terawat.

    

    Namun, di balik kebiasaan tersebut, ada beberapa pertanyaan penting yang sering muncul dan perlu dipahami dengan baik:

1.      Bagaimana sebenarnya hukum ziarah kubur dalam Islam?

2.      Bolehkah mendoakan orang yang sudah meninggal saat berada di kuburan?

3.      Apakah tradisi ziarah yang dilakukan secara turun-temurun ini dibenarkan?

Jawaban:

1.    Ziarah kubur pada dasarnya adalah amalan yang dianjurkan (sunnah), selama dilakukan dengan tujuan yang benar. Di antaranya adalah untuk mengambil pelajaran, mengingat kehidupan akhirat, mendoakan orang yang telah meninggal, serta mengucapkan salam kepada penghuni kubur. Selain itu, ziarah juga menjadi pengingat bagi setiap orang bahwa kehidupan di dunia ini bersifat sementara, tidak kekal, dan pada akhirnya semua manusia akan mengalami kematian.

Dengan pemahaman ini, ziarah kubur tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan atau tradisi belaka, tetapi juga menjadi momen refleksi diri agar kita lebih bijak dalam menjalani kehidupan.


  1. Mendoakan orang yang telah meninggal termasuk amalan yang dianjurkan. Namun, cara berdoanya perlu diperhatikan agar sesuai dengan tuntunan yang benar. Tidak semua kebiasaan yang berkembang di masyarakat memiliki dasar yang kuat. Misalnya, kebiasaan mengirim bacaan Al-Fatihah secara khusus kepada mayit, hal ini masih menjadi perbincangan di kalangan ulama dan perlu dikaji lebih dalam. Karena itu, penting bagi kita untuk merujuk pada sumber-sumber yang shahih, seperti buku-buku hadits terpercaya atau situs keislaman yang kredibel, agar doa yang kita panjatkan benar-benar sesuai dengan ajaran yang diajarkan.

Intinya, mendoakan mayit adalah hal yang baik, tetapi harus dilakukan dengan cara yang tepat, tidak sekadar mengikuti kebiasaan tanpa dasar ilmu.


  1. Dalam Islam, tradisi tidak menjadi patokan utama jika bertentangan dengan syariat. Artinya, suatu kebiasaan atau budaya hanya bisa diterima selama tidak melanggar aturan agama. Jika ada tradisi yang tidak sesuai dengan tuntunan syariat, maka sebaiknya ditinggalkan.

Oleh karena itu, sebelum melakukan ziarah kubur, penting bagi kita untuk memahami tata caranya dengan benar. Jangan sampai niat baik justru dilakukan dengan cara yang keliru. Beberapa praktik yang umum dilakukan di masyarakat, seperti mengkhususkan bacaan tertentu tanpa dasar yang jelas, perlu disikapi dengan hati-hati. Lebih baik kita mengutamakan amalan yang jelas tuntunannya agar ibadah yang dilakukan benar-benar bernilai di sisi Allah.

 

    Itulah beberapa penjelasan terkait kebiasaan ziarah kubur yang umum dilakukan di masyarakat Indonesia. Pada dasarnya, ziarah adalah amalan yang baik jika dilakukan sesuai tuntunan. Namun, di sisi lain, ada beberapa praktik yang perlu diwaspadai karena bisa berdampak serius, bahkan berpotensi merusak akidah seorang muslim jika tidak dipahami dengan benar.

Coba kita renungkan beberapa hal berikut:

  • Pernahkah Anda melihat kuburan yang dibuat sangat megah, bahkan berada di dalam area masjid?
  • Pernahkah Anda melihat orang shalat dengan posisi menghadap ke arah kuburan?
  • Pernahkah Anda melihat orang-orang secara khusus mendatangi kuburan para wali atau orang yang dianggap shaleh untuk tujuan tertentu?
  • Pernahkah Anda mendengar atau mengetahui adanya orang yang berdoa dengan meminta langsung kepada penghuni kubur?

    Jika pernah melihat atau mendengar hal-hal tersebut, penting bagi kita untuk tidak hanya diam, tetapi juga memahami bagaimana seharusnya sikap yang tepat. Apakah kita membiarkannya begitu saja, atau mencoba mencari tahu kebenaran berdasarkan ajaran agama?

    Bagian ini penting untuk dikaji lebih dalam, agar kita tidak sekadar ikut-ikutan, tetapi benar-benar memahami mana yang sesuai dengan tuntunan dan mana yang perlu diluruskan. Untuk itu, mari kita perhatikan penjelasan berikutnya agar pemahaman kita semakin jelas dan tidak keliru dalam bersikap.

1.               Tidak boleh membuat bangunan diatas kuburan,baik berupa keramik atau yang lain lalu menorehkan tulisan, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang hal itu. Telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Jabir bin Abdullah ia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk mengapur kuburan, duduk-duduk, dan membuat bangunan diatasnya. Hadits ini diriwayatkan oleh imam Muslim dalam shahihnya. (Abidin, 2016: hal. 69).  Kuburan yang diatasnya dibangun dengan bangunan dari semen dan batu bata maka ini adalah perbuatan terlarang. Nah, jika hanya membangun saja terlarang apalagi dengan menghiasinya, bahkan berdo’a dan shalat kepada kuburan tersebut maka ini adalah perbuatan yang bisa mengantarkan kepada kesyirikan.
2.                        Mengenai berdo’a meminta kepada penghuni kubur (bertawassul dengannya) dan menjadikan penghuni kubur tersebut sebagai perantara untuk menyambungkan do’a kepada Allah maka ini adalah perbutan terlarang walaupun itu kuburan para nabi atau orang-orang shaleh. Saya akan nukilkan keterangan dari Syeikh Shalih Fauzan al-Fauzan,

 …diantara orang-orang yang diperangi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada yang menyembah behala, ada yang menymbah pohon, ada yang menyembah batu, ada yang menyembah malaikat, dan ada yang menyembah para wali dan orang-orang shalih(Kitab Terjemahan. Syeikh Shalih Fauzan al-Fauzan, 2015: hal. 60).

          Maka berdo’alah langsung kepada Allah Ta’ala karena ia Maha Pengasih, Maha Pengampun. Dan tidak perlu memakai perantara seperti lewat kuburan yang baru dibahas tadi. Fenomena lain yang terjadi adalah masyarakat ziarah untuk mencari berkah ke kuburan-kuburan orang shaleh tersebut, misalnya ziarah ke kuburan walisongo dengan niat mencari berkah, kesembuhan, meminta jodoh, dan rezeki. Ketahuilah ini adalah perbuatan yang bisa mengantarkan kepada kesyirikan.

Kesimpulan dan Penutup

    Sebagai penutup, penting bagi kita untuk meluruskan niat dan cara dalam beribadah. Berdoalah langsung kepada Allah Ta’ala, karena hanya Dia yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun. Tidak perlu menggunakan perantara, apalagi melalui kuburan, karena hal tersebut tidak diajarkan dalam tuntunan yang benar.

    Di masyarakat, ada juga fenomena ziarah kubur yang bergeser tujuannya. Sebagian orang datang ke kuburan orang-orang yang dianggap shaleh dengan harapan mendapatkan berkah, kesembuhan, jodoh, atau kelancaran rezeki. Padahal, permohonan seperti itu seharusnya hanya ditujukan kepada Allah semata.

    Perlu dipahami, kebiasaan seperti ini bukan sekadar keliru dalam praktik, tetapi juga berbahaya jika dibiarkan, karena dapat mengarah pada perbuatan yang menyimpang dari akidah yang benar. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk selalu berhati-hati, membekali diri dengan ilmu, dan memastikan bahwa setiap ibadah yang dilakukan benar-benar sesuai dengan ajaran Islam.

    Dengan begitu, ziarah kubur tetap bisa menjadi amalan yang bermanfaat—sebagai sarana mengingat kematian, mendoakan yang telah wafat, dan memperbaiki diri—tanpa terjerumus pada hal-hal yang tidak sesuai dengan syariat.


Daftar Pustaka:
Abidin, Zainal. 2016. Sunnah-Sunnah Setelah Kematian. Jakarta Timur: Pustaka Imam Bonjol.

Muhammad. 2015. Penjelasan Pembatal Keislaman “Syarah dan Ta’liq Syaikh Shalih Fauzan al-Fauzan. Jakarya Timur: Pustaka Imam Bonjol.




Komentar

Postingan Populer