Belajar Ikhlas: Menyikapi Cita-Cita yang Gagal dan Musibah yang Tak Terduga
Penulis: Handriadi Iswardani
Menyadari Batas Kemampuan dan Takdir
Semua dari kita memiliki
keinginan dan cita-cita yang ingin diwujudkan. Namun, jika kita renungkan lebih
dalam, kenyataannya tidak semua keinginan itu bisa tercapai. Maka dari itu,
yang paling penting bukan hanya tentang apa yang kita raih, tapi bagaimana kita
menyikapi kegagalan ketika suatu harapan tidak tercapai. Apakah kita marah,
mengeluh, dan menyalahkan takdir, atau justru bisa bersabar, mengikhlaskan, dan
menyerahkan semua urusan kepada Allah Yang Maha Mengatur segala sesuatu.
Memang tidak mudah untuk
bersikap ikhlas dan sabar. Namun, apabila kita memohon kepada Allah, yang
menciptakan hati kita, mintalah agar Dia melapangkan hati kita dan menuntun
kita untuk berserah diri. Bersikap tenang dan menerima kenyataan bahwa suka
atau tidak, hal-hal yang tidak menyenangkan pasti akan kita temui selama kita
masih hidup, merupakan langkah awal untuk membangun ketenangan batin.
Belajar dari Musibah: Gempa Palu dan
Donggala
Sayangnya, banyak dari
kita tetap memilih bersikap egois—baik itu karena pilihan maupun
ketidaksengajaan. Untuk itulah, setiap individu perlu melakukan introspeksi
diri dan mempelajari hakikat hidup. Saya menulis ini pada tanggal 3 Oktober
2018, sekitar seminggu setelah gempa di Palu dan Donggala. Pada awalnya, ketika
melihat sebuah video amatir tentang tsunami, saya sempat berpikir, “Oh,
tsunaminya tidak terlalu besar.” Namun, beberapa hari kemudian, foto dan video
yang beredar menunjukkan kerusakan yang jauh lebih parah daripada yang saya
bayangkan.
Sumber: Kompas.com (2018), diakses
dari:
https://asset.kompas.com/crop/0x0:1000x667/750x500/data/photo/2018/10/09/2684547412.jpg
Sumber: Liputan6.com (2018), diakses
dari:
https://wiki.ambisius.com/tsunami/tsunami-palu-2018/foto
Namun, itu hanya
pemikiran awal saya sebelum melihat berita selanjutnya. Yang lebih memilukan
adalah keluhan para korban yang kehilangan anggota keluarga mereka—anak, istri,
dan sanak saudara—tanpa kabar. Mereka sudah dicari melalui pendataan, tapi
tidak ditemukan. Beberapa mungkin tertimbun tanah, terperangkap di reruntuhan
bangunan. Peristiwa ini sungguh mengiris hati, mengingatkan kita bahwa hidup
penuh ketidakpastian, dan apa pun yang kita miliki bisa berubah dalam sekejap
mata.
Cita-Cita dan Kehidupan yang Sementara
Dua tema ini saya
kombinasikan dalam tulisan ini: tentang cita-cita yang gagal diraih, dan
tentang musibah yang mengingatkan kita bahwa apa pun yang berhasil dicapai bisa
hilang dalam sekejap. Saat sebuah cita-cita tercapai, kita mungkin merasa
senang dan bangga, tetapi kenyataannya, semua itu bisa lenyap, musnah, dan tak
akan pernah kembali. Dari sini kita bisa belajar untuk bijak dalam menyikapi
keinginan yang tidak terwujud—bahwa mungkin hal itu memang bukan bagian dari
takdir kita, atau mungkin hal itu sebenarnya berisiko bagi kita jika tercapai.
Satu pelajaran lagi yang
penting untuk diingat: sesuatu sering terasa indah saat kita belum memilikinya,
sehingga kita lupa mensyukuri nikmat yang sudah ada. Yakinlah, pilihan Allah
Yang Maha Kuasa selalu yang terbaik untuk kita.
Akhir kata, bagi kita yang beriman, kuncinya adalah hidup lurus: menunaikan kewajiban, menjaga shalat lima waktu, dan menjauhi dosa besar. Semua itu mengingatkan kita bahwa hidup di dunia ini sementara, dan kematian pasti akan tiba. Cita-cita yang gagal dicapai hanyalah bagian kecil dari skenario hidup yang sementara ini. Maka, belajar menerima, bersabar, dan ikhlas adalah kunci agar hati tetap tenang meskipun dunia kadang tidak berjalan sesuai rencana.






Komentar
Posting Komentar