Cara Move On Menurut Islam: Mengikhlaskan Cinta dan Menata Hati Kembali
Penulis:
Handriadi Iswardani
Memahami Hakikat Perasaan dan Cinta
Malam pada dasarnya gelap. Tanpa cahaya, ia hanya menyisakan
kesunyian yang dalam. Begitu juga dengan hidup kita—di dalamnya ada perasaan
yang terus bergerak, membawa kita memahami banyak hal, termasuk tentang cinta.
Perasaan itu membuat kita belajar, mengenal, bahkan menilai arti kedekatan
dengan orang lain.
Namun, tidak sedikit orang yang menyikapi cinta
secara berlebihan. Perasaan yang seharusnya menenangkan justru berubah menjadi
sumber kegelisahan. Seseorang bisa larut terlalu dalam, memikirkan hal-hal yang
sebenarnya tidak perlu, hingga akhirnya terjebak dalam kekhawatiran yang dibuat
oleh dirinya sendiri.
Coba perhatikan di sekitar kita,
atau mungkin dalam pengalaman pribadi. Betapa sering cinta membuat seseorang
kehilangan keseimbangan. Hal-hal kecil dibesar-besarkan, emosi sulit
dikendalikan, dan keputusan diambil tanpa pertimbangan yang jernih. Di titik
itu, cinta tidak lagi menjadi sesuatu yang membangun, tetapi justru melelahkan.
Di sinilah pentingnya menyadari bahwa cinta tetap perlu
diiringi dengan akal sehat. Perasaan memang tidak bisa dihindari, tetapi cara
kita menyikapinya adalah pilihan. Ketika seseorang mampu menjaga batas dan
bersikap bijak, cinta akan menjadi sesuatu yang menguatkan, bukan sebaliknya.
Kenapa kita tidak mencoba melihat persoalan hati ini sebagai
sebuah ilusi? Dalam arti, tidak semua yang kita rasakan harus selalu dianggap
sebagai sesuatu yang mutlak dan harus diikuti. Ketertarikan pada lawan jenis
adalah hal yang wajar, itu bagian dari fitrah manusia. Selama masih dalam batas
yang baik, itu bukan masalah.
Namun, yang sering terjadi justru
sebaliknya. Kita menganggap satu orang sebagai segalanya, seolah tidak ada lagi
pilihan lain di dunia ini. Padahal, jika dipikir dengan jernih, manusia itu
banyak. Ada banyak pribadi baik, menarik, dan layak untuk dihargai. Jadi, tidak
perlu terjebak pada satu perasaan yang sebenarnya belum tentu membawa kebaikan,
apalagi jika hanya dipenuhi oleh bayangan dan harapan yang belum tentu nyata.
Di sisi lain, memang tidak bisa
dipungkiri bahwa kehilangan seseorang yang kita sayangi meninggalkan bekas.
Kenangan-kenangan itu kadang muncul tanpa diundang, membuat hati terasa berat
dan pikiran sulit tenang. Hal seperti ini sangat manusiawi, dan banyak orang
mengalaminya.
Cara Move On: Kembali kepada Allah
Lalu bagaimana cara keluar dari kondisi itu? Salah satu
langkah yang paling kuat adalah kembali mendekat kepada Allah, memohon
pertolongan-Nya. Kita meyakini bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Seberat apa pun perasaan yang kita rasakan hari ini, semua bisa berubah jika
Allah menghendaki. Hati yang tadinya terasa hancur bisa perlahan pulih, bahkan
kembali merasakan ketenangan dan kebahagiaan, meskipun tanpa orang yang dulu
kita anggap begitu penting.
Intinya, perasaan memang tidak selalu bisa kita
kendalikan, tetapi arah hidup kita tetap bisa kita pilih. Dengan bantuan Allah
dan usaha untuk berpikir lebih jernih, kita bisa keluar dari bayang-bayang masa
lalu dan melangkah ke depan dengan lebih ringan.
Semoga
tulisan singkat ini bisa memberi manfaat dan menjadi pengingat bagi kita semua.
Dalam menyikapi perasaan, terutama cinta, kita memang perlu belajar untuk lebih
tenang dan tidak berlebihan.
Ada satu nasihat dari seorang
ulama Ahlussunnah, Sufyan Ats-Tsauri, yang
relevan dengan hal ini. Beliau menjelaskan tentang makna zuhud terhadap dunia.
Menurut beliau, zuhud bukan berarti hidup serba kekurangan, makan seadanya,
atau berpakaian sederhana semata. Bukan itu inti utamanya.
Zuhud yang sebenarnya adalah
ketika seseorang tidak terlalu panjang angan-angannya terhadap dunia, dan
selalu ingat bahwa hidup ini tidak selamanya. Kesadaran seperti ini membuat
seseorang lebih bijak dalam menyikapi apa pun, termasuk urusan perasaan dan
cinta.
Jika kita memahami hal ini, kita
tidak akan mudah larut dalam kesedihan hanya karena kehilangan seseorang. Kita
tetap bisa merasakan sedih, tetapi tidak sampai kehilangan arah. Kita tetap
bisa mencintai, tetapi tidak sampai menggantungkan seluruh kebahagiaan pada
satu manusia.
Pada akhirnya, hidup ini bukan hanya tentang siapa yang
datang dan pergi dalam kehidupan kita. Ada tujuan yang lebih besar yang perlu
kita jaga. Ketika kita mampu menata hati dengan cara yang benar, insyaAllah
kita akan lebih kuat, lebih tenang, dan tidak mudah goyah oleh hal-hal yang
sebenarnya sementara



Komentar
Posting Komentar