Cara Move On Menurut Islam: Mengikhlaskan Cinta dan Menata Hati Kembali

Penulis: Handriadi Iswardani

 

Sumber: pexels.com/pixabay

Memahami Hakikat Perasaan dan Cinta

Malam pada dasarnya gelap. Tanpa cahaya, ia hanya menyisakan kesunyian yang dalam. Begitu juga dengan hidup kita—di dalamnya ada perasaan yang terus bergerak, membawa kita memahami banyak hal, termasuk tentang cinta. Perasaan itu membuat kita belajar, mengenal, bahkan menilai arti kedekatan dengan orang lain.

Namun, tidak sedikit orang yang menyikapi cinta secara berlebihan. Perasaan yang seharusnya menenangkan justru berubah menjadi sumber kegelisahan. Seseorang bisa larut terlalu dalam, memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu, hingga akhirnya terjebak dalam kekhawatiran yang dibuat oleh dirinya sendiri.

Coba perhatikan di sekitar kita, atau mungkin dalam pengalaman pribadi. Betapa sering cinta membuat seseorang kehilangan keseimbangan. Hal-hal kecil dibesar-besarkan, emosi sulit dikendalikan, dan keputusan diambil tanpa pertimbangan yang jernih. Di titik itu, cinta tidak lagi menjadi sesuatu yang membangun, tetapi justru melelahkan.

Di sinilah pentingnya menyadari bahwa cinta tetap perlu diiringi dengan akal sehat. Perasaan memang tidak bisa dihindari, tetapi cara kita menyikapinya adalah pilihan. Ketika seseorang mampu menjaga batas dan bersikap bijak, cinta akan menjadi sesuatu yang menguatkan, bukan sebaliknya.

Kenapa kita tidak mencoba melihat persoalan hati ini sebagai sebuah ilusi? Dalam arti, tidak semua yang kita rasakan harus selalu dianggap sebagai sesuatu yang mutlak dan harus diikuti. Ketertarikan pada lawan jenis adalah hal yang wajar, itu bagian dari fitrah manusia. Selama masih dalam batas yang baik, itu bukan masalah.

Namun, yang sering terjadi justru sebaliknya. Kita menganggap satu orang sebagai segalanya, seolah tidak ada lagi pilihan lain di dunia ini. Padahal, jika dipikir dengan jernih, manusia itu banyak. Ada banyak pribadi baik, menarik, dan layak untuk dihargai. Jadi, tidak perlu terjebak pada satu perasaan yang sebenarnya belum tentu membawa kebaikan, apalagi jika hanya dipenuhi oleh bayangan dan harapan yang belum tentu nyata.

Di sisi lain, memang tidak bisa dipungkiri bahwa kehilangan seseorang yang kita sayangi meninggalkan bekas. Kenangan-kenangan itu kadang muncul tanpa diundang, membuat hati terasa berat dan pikiran sulit tenang. Hal seperti ini sangat manusiawi, dan banyak orang mengalaminya.

 

Cara Move On: Kembali kepada Allah

Lalu bagaimana cara keluar dari kondisi itu? Salah satu langkah yang paling kuat adalah kembali mendekat kepada Allah, memohon pertolongan-Nya. Kita meyakini bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Seberat apa pun perasaan yang kita rasakan hari ini, semua bisa berubah jika Allah menghendaki. Hati yang tadinya terasa hancur bisa perlahan pulih, bahkan kembali merasakan ketenangan dan kebahagiaan, meskipun tanpa orang yang dulu kita anggap begitu penting.

Intinya, perasaan memang tidak selalu bisa kita kendalikan, tetapi arah hidup kita tetap bisa kita pilih. Dengan bantuan Allah dan usaha untuk berpikir lebih jernih, kita bisa keluar dari bayang-bayang masa lalu dan melangkah ke depan dengan lebih ringan.

Semoga tulisan singkat ini bisa memberi manfaat dan menjadi pengingat bagi kita semua. Dalam menyikapi perasaan, terutama cinta, kita memang perlu belajar untuk lebih tenang dan tidak berlebihan.

Ada satu nasihat dari seorang ulama Ahlussunnah, Sufyan Ats-Tsauri, yang relevan dengan hal ini. Beliau menjelaskan tentang makna zuhud terhadap dunia. Menurut beliau, zuhud bukan berarti hidup serba kekurangan, makan seadanya, atau berpakaian sederhana semata. Bukan itu inti utamanya.

Zuhud yang sebenarnya adalah ketika seseorang tidak terlalu panjang angan-angannya terhadap dunia, dan selalu ingat bahwa hidup ini tidak selamanya. Kesadaran seperti ini membuat seseorang lebih bijak dalam menyikapi apa pun, termasuk urusan perasaan dan cinta.

Jika kita memahami hal ini, kita tidak akan mudah larut dalam kesedihan hanya karena kehilangan seseorang. Kita tetap bisa merasakan sedih, tetapi tidak sampai kehilangan arah. Kita tetap bisa mencintai, tetapi tidak sampai menggantungkan seluruh kebahagiaan pada satu manusia.

Pada akhirnya, hidup ini bukan hanya tentang siapa yang datang dan pergi dalam kehidupan kita. Ada tujuan yang lebih besar yang perlu kita jaga. Ketika kita mampu menata hati dengan cara yang benar, insyaAllah kita akan lebih kuat, lebih tenang, dan tidak mudah goyah oleh hal-hal yang sebenarnya sementara

 

Komentar

Postingan Populer